Selasa, 18 Oktober 2016

Autobiografi


Si anak ‘95 

Nama saya Dicky Abi Pradana bisa dipanggil dengan sebutan Dicky atau Abi. Saya berjenis kelamin laki-laki da lahir pada tanggal 3 Agustus 1995. Bapak saya Ramin, beliau seorang Petani dan Perangkat Desa. Sedangkan ibu saya Rumijatun, seorang guru TK di desa saya sendiri. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Saudara saya Dimas Ardha Pamungkas, sayangnya dia sudah meninggal saat menginjak SMP kelas 7 karena penyakit yang tidak diketahui. Dan akhirnya membuat saya menjadi anak tunggal. say
Saya masuk di Taman Kanak-Kanak pada usia 4 Tahun. Saya di masukkan di TK Dharma Bakti yang jaraknya dekat dengan rumah, dan faktor utama saya di tempatkan di situ adalah Ibu saya sendiri yang mengajar. Sebenarnya sebelum saya resmi masuk TK dulu juga sering diajak ibu di dalam kelas katanya supaya mudah beradaptasi dengan lingkungan. Kemudian saya melanjutkan ke SDN Kerep yang letaknya di desa saya sendiri. Meskipun jaraknya agak jauh, tapi saya selalu semangat berangkat ke sekolah menggunakan sepeda buntut kecil saya. Yang saya ingat waktu masih SD, saya adalah seorang anak penakut dan lemah karena jarang bermain dengan teman laki-laki. Dan sebaliknya saya sering bermain dengan teman-teman saya perempuan. Hingga tiba waktu PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni) seluruh anak laki-laki dikelas mewaliki cabang olahraga, dan cuma saya sendiri laki-laki yang mengikuti lomba puisi. Tapi setelah kenaikan kelas 4 saya berubah menjadi pribadi yang pemberani karena wali kelas saat itu, beliau adalah Pak Tarmidi. Beliau selalu memberi motivasi, semangat dan mengajarkan saya arti kerja keras. Mulai saat itulah saya juga mempunyai hobi sepak bola, dan bapak selalu juga mendukung.
Setelah lulus dari SDN Kerep saya melanjutkan ke SMPN 1 Bulu. Dari desa saya cuma ada dua orang anak yang melanjutjan di SMP ini, teman yang menemani saya adalah Agung Budi Asih. Tapi berkat ajaran dari Pak Tarmidi di SD saya mudah beradaptasi dan berani berkenalan dengan anak-anak baru yang saya temui. Pembagian kelas menunjukkan saya berada dikelas 7E. Ketika kenaikan kelas saya mendapatkan kelas unggulan di SMP, yakni adalah kelas 8A. Hanya lima orang laki-laki diantara 30 orang perempuan yang berada dikelas tersebut, mereka adalah Aziz, Endra, Ali, Toni, dan saya sendiri. Dan saat kelas 9 siswa unggulan kelas 8A di bagi rata, pada waktu itu saya mendapatkan kelas 9D. Saat waktu kelulusan sekolah teman-teman pada konvoi dan corat-coret baju, saya memilih langsung pulang ke rumah.
Melanjutkan ke jenjang tingkat menengah akhir saya masuk SMAN 3 Rembang setelah gagal masuk SMKN 1 Rembang. Tapi tidak membuat ciut mental untuk tetap masuk dan mengikuti pelajaran secara serius. Pertama masuk kelas saya mendapatkan kelas X.1, wali kelas saat itu adalah Bu Andi Pupitaningrum. Beliau selalu suka saat saya membacakan puisi ketika pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika program penjurusan saya terpilih masuk di kelas IPA. Kelas XI IPA2 menjadi persinggahan belajar saya selanjutnya, dan Bu Nur Yuliani adalah wali kelas saat itu. Dapat diketahui bahwa program IPA selalu di isi oleh anak-anak unggulan, dan saya bangga pernah menjadi bagian dari kelas itu. Kelas berikutnya yaitu XII IPA 3, di kelas ini pertama kali saya menjadi ketua kelas karena ditunjuk langsung oleh Bu Hidayatul Khosiah yang tak lain adalah wali kelas saat itu. Beliau menunjuk karena saya mempunyai wibawa untuk menjadi pemimpin. Di SMAGA lebih memilih untuk menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa asing, dibandingkan sekolah pada umumnya yang memilih bahasa Jepang, Korea, dan Prancis.
Setelah lulus dari SMA, saya melanjutkan ke UIN Walisongo Semarang lewat jalur tes tertulis. Padahal sebelumnya lewat jalur SBMPTN saya masuk di UIN Sunan Ampel Surabaya, karena jarak yang cukup jauh dari Rembang. Saya lebih memilih UIN Walisongo Semarang sebagai persinggahan menimba ilmu lebih dalam. Dan sekarang saya berada di jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA).