Si anak
‘95
Nama saya Dicky Abi Pradana bisa dipanggil dengan sebutan Dicky
atau Abi. Saya berjenis kelamin laki-laki da lahir pada tanggal 3 Agustus 1995.
Bapak saya Ramin, beliau seorang Petani dan Perangkat Desa. Sedangkan ibu saya
Rumijatun, seorang guru TK di desa saya sendiri. Saya anak pertama dari dua
bersaudara. Saudara saya Dimas Ardha Pamungkas, sayangnya dia sudah meninggal
saat menginjak SMP kelas 7 karena penyakit yang tidak diketahui. Dan akhirnya
membuat saya menjadi anak tunggal. say
Saya masuk di Taman Kanak-Kanak pada usia 4 Tahun. Saya di masukkan
di TK Dharma Bakti yang jaraknya dekat dengan rumah, dan faktor utama saya di
tempatkan di situ adalah Ibu saya sendiri yang mengajar. Sebenarnya sebelum
saya resmi masuk TK dulu juga sering diajak ibu di dalam kelas katanya supaya
mudah beradaptasi dengan lingkungan. Kemudian saya melanjutkan ke SDN Kerep
yang letaknya di desa saya sendiri. Meskipun jaraknya agak jauh, tapi saya
selalu semangat berangkat ke sekolah menggunakan sepeda buntut kecil saya. Yang
saya ingat waktu masih SD, saya adalah seorang anak penakut dan lemah karena
jarang bermain dengan teman laki-laki. Dan sebaliknya saya sering bermain
dengan teman-teman saya perempuan. Hingga tiba waktu PORSENI (Pekan Olahraga
dan Seni) seluruh anak laki-laki dikelas mewaliki cabang olahraga, dan cuma
saya sendiri laki-laki yang mengikuti lomba puisi. Tapi setelah kenaikan kelas 4
saya berubah menjadi pribadi yang pemberani karena wali kelas saat itu, beliau
adalah Pak Tarmidi. Beliau selalu memberi motivasi, semangat dan mengajarkan
saya arti kerja keras. Mulai saat itulah saya juga mempunyai hobi sepak bola,
dan bapak selalu juga mendukung.
Setelah lulus dari SDN Kerep saya melanjutkan ke SMPN 1 Bulu. Dari
desa saya cuma ada dua orang anak yang melanjutjan di SMP ini, teman yang
menemani saya adalah Agung Budi Asih. Tapi berkat ajaran dari Pak Tarmidi di SD
saya mudah beradaptasi dan berani berkenalan dengan anak-anak baru yang saya
temui. Pembagian kelas menunjukkan saya berada dikelas 7E. Ketika kenaikan
kelas saya mendapatkan kelas unggulan di SMP, yakni adalah kelas 8A. Hanya lima
orang laki-laki diantara 30 orang perempuan yang berada dikelas tersebut, mereka
adalah Aziz, Endra, Ali, Toni, dan saya sendiri. Dan saat kelas 9 siswa
unggulan kelas 8A di bagi rata, pada waktu itu saya mendapatkan kelas 9D. Saat
waktu kelulusan sekolah teman-teman pada konvoi dan corat-coret baju, saya
memilih langsung pulang ke rumah.
Melanjutkan ke jenjang tingkat menengah akhir saya masuk SMAN 3
Rembang setelah gagal masuk SMKN 1 Rembang. Tapi tidak membuat ciut mental
untuk tetap masuk dan mengikuti pelajaran secara serius. Pertama masuk kelas
saya mendapatkan kelas X.1, wali kelas saat itu adalah Bu Andi Pupitaningrum. Beliau
selalu suka saat saya membacakan puisi ketika pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika
program penjurusan saya terpilih masuk di kelas IPA. Kelas XI IPA2 menjadi
persinggahan belajar saya selanjutnya, dan Bu Nur Yuliani adalah wali kelas
saat itu. Dapat diketahui bahwa program IPA selalu di isi oleh anak-anak
unggulan, dan saya bangga pernah menjadi bagian dari kelas itu. Kelas
berikutnya yaitu XII IPA 3, di kelas ini pertama kali saya menjadi ketua kelas
karena ditunjuk langsung oleh Bu Hidayatul Khosiah yang tak lain adalah wali
kelas saat itu. Beliau menunjuk karena saya mempunyai wibawa untuk menjadi
pemimpin. Di SMAGA lebih memilih untuk menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa
asing, dibandingkan sekolah pada umumnya yang memilih bahasa Jepang, Korea, dan
Prancis.
Setelah lulus dari SMA, saya melanjutkan ke UIN Walisongo Semarang
lewat jalur tes tertulis. Padahal sebelumnya lewat jalur SBMPTN saya masuk di
UIN Sunan Ampel Surabaya, karena jarak yang cukup jauh dari Rembang. Saya lebih
memilih UIN Walisongo Semarang sebagai persinggahan menimba ilmu lebih dalam.
Dan sekarang saya berada di jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA).