KORUPTOR
EKSIS, RAKYAT KRISIS
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab IAIN Walisongo Semarang
Orang
yang tinggal di Indonesia notabenenya adalah orang miskin. Banyak sekali dari
mereka yang minim akan informasi dan berita. Apalagi dari mereka yang tinggal
di desa maupun pelosok. Namun, diantara mereka ada beberapa yang selalu
memperbarui keadaan yang ada sekarang. Bagi kalangan kaum menengah kebawah,
mereka hanya bisa menyaksikan kasus-kasus yang sering dibicarakan. Salah satunya
berita mengenai korupsi. Itu adalah berita yang tidak pernah luput dari incaran
media masa.
Beberapa
orang dari golongan rakyat miskin, korupsi merupakan masalah yang tidak ada
habisnya. Bagaimana bisa selesai, jika
dari petinggi-petinggi negara banyak yang terlibat kasus korupsi. Beru-baru ini
seperti ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu Aqil Mochtar yang juga terseret
oleh KPK. Tidak hanya itu, pejabat negara sekarang juga sering eksis ditelevisi
karena kasus yang serupa. Dan sepertinya mereka tidak memiliki rasa malu yang
melekat pada diri koruptor. Maka sebagian rakyat kecil beranggapan bahwa mereka
hampir selalu dijadikan alasan para koruptor untuk mencari kepuasan diri.
Ketika
seorang sudah terjerat suatu kasus korupsi, dan saat itu juga membuat sang
koruptor menjadi lebih terkenal. Ada yang selalu tebar senyuman ketika
diwawancara, adapun melambaikan tangan ketika . Tak terkecuali ketika muncul di
media-media masa. Dan sepertinya para koruptor tidak memiliki rasa malu, dan
seperti tidak berdosa.
Sebenarnya
rakyat juga jenuh terhadap beberapa keputusan dan sikap pemerintah yang
sepertinya lebih berpihak pada koruptor. Seperti hukuman-hukuman yang
diberikan, tidak membuat para koruptor jera terhadap perbuatanya. Tetapi para
pencuri uang rakyat itu malah merasa keenakan atas hukuman yang diterima.
Bagaimana tidak enak, mereka yang seharusnya dihukum berat ternyata diberikan
fasilitas yang lengkap. Apalagi jika tersangka memiliki banyak uang. Bahkan
mereka seperti bayi yang baru saja lahir. Apa yang diinginkan dan diminta sepertinya
selalu ada saja yang memberi.
Sangat
berbeda sekali dengan beberapa kasus-kasus pelanggaran hukum ringan oleh rakyat
miskin. Salah satunya adalah pencurian semangka yang pernah terjadi di
Surabaya, sang pelaku dihukum penjara hampir setengah tahun. Dan pencurian
sandal yang dialami seorang pemuda di Makasar. Mungkin juga masih banyak kasus
yang belum terungkap oleh media. Tidak seperti para koruptor, yang menikmati
hukuman yang diterima. Peristiwa seperti itu seharusnya menjadi koreksi besar
oleh pemerintah dan penegak hukum.
Indonesia
seharusnya bisa memberikan hukuman yang selayaknya diterima para koruptor
supaya tidak mengulangi perbuatannya. Dibeberapa negara ada yang sudah berhasil
menerapkan hukuman yang membuat jera. Salah satu contohnya adalan Hongkong, para koruptor akan mendapat hukuman deportasi.
Ada juga yang memberikan hukuman mati, itu terjadi di Korea dan China. Jika
Saudi Arabia, potong tangan adalah hukuman yang ambil karena sesuai hukum
islam.
Namun, Indonesia menganut sistem negara hukum.
Lebih parahnya hukum yang berlaku tidak berjalan seperti yang diharapkan. Pasalnya
di negara ini kebanyakan orang yang memiliki kekuasaan lebih tinggi, sangat
sulit untuk diproses lewat hukum. Sebenarnya ada satu opsi hukuman yang dapat
dijalankan pemerintah. Hukum gantung, tembak mati, dan potong tangan mungkin
dapat membuat para koruptor berfikir ulang untuk melakukan aksinya. Jika tidak ada tindakan lebih tegas dari
pemerintah, itu akan menyebabkan rakyat semakin krisis akan kemiskinan.
Tidak
dapat dipungkiri juga bahwa kemiskinan adalah masalah yang belum bisa
dipecahkan oleh bangsa Indonesia. Permasalahan seperti seharusnya bisa diatasi
para DPR yang bekerja digedung super luas. Bagaimana bisa menyelesaikan masalah
yang membelit di negara ini. Jika
anggota DPR kerjanya hanya datang, duduk, dan diam. Padahal DPR yang kepanjangan
dari Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi seperti Dewan Pemeras Rakyat.
Beberapa
dampak dari tindakan ini, pasti berimbas terhadap golongan rakyat kecil. Seperti
saat ada bantuan dari pemerintah bagi rakyat miskin, tetapi ada saja orang yang
tidak memiliki hak ikut menerimanya. Karena dari masalah yang sekecil itu,
dapat menjalar ke program pemerintah yang lebih besar untuk selanjutnya. Dari
segi pendidikan sendiri dapat menimbulkan karakter kepribadian yang tidak baik.
Seorang pelajar yang akhirnya nanti diminta dapat memperbaiki kehidupan bangsa,
tetapi malah merusak bangsa. Jika dari kecil sudah melakukan tindakan seperti
korupsi. Pada saat itu juga mereka sudah menjadi bibit-bibit koruptor.
Dari
sini peran pemerinah diminta untuk pengurangan dan penanggulangan bibit-bibit korupsi.
Tetapi tidak hanya pemerintah saja, beberapa komponen juga diminta untuk
membantunya. Namun, dimulai dari keluarga, lingkungan, dan sekolahan. Untuk
menjalankan itu, disini juga membutuhkan peran seorang para pemimpin. Sosok
orang yang bisa mengubah dan mengolah kepribadian. Jika tidak ada orang yang
mampu melaksanakan, sampai kiamat datang rakyat tetap mengalami krisis yang
tiada hentinya.
Rakyat
itu sebenarnya tidak butuh pengorbanan dari seorang pemimpin, mungkin hanya
cukup tidak korupsi. Dengan beitu, mungkin rakyat merasa lebih percaya kepanda
penguasa negara. Dan hasilnya bisa berimbas kepada seluruh rakyat di Indonesia.
Terlebih rakyat miskin, yang hidupnya jarang terjangkau dari perhatian pemerintah.