Rabu, 10 September 2014

TIKUS DALAM KAMPUS?

Oleh: Dicky Abi Pradana
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab IAIN Walisongo Semarang

Dalam sebuah lembaga perguruan tinggi negeri maupun swasta sangat membutuhkan sistem birokrasi. Terutama di Universitas maupun Institut, pasti sangat memerlukannya. Ketika sistem ini berjalan di kampus dengan tidak baik atau bermasalah, maka dapat dikatakan orang yang berada didalamnya sebaian juga tidak baik. Dan pada saat itu juga mereka akan mengambil kesempatan untuk melakukan tindakan tersembunyi. Salah satunya adalah berbuat korupsi. Korupsi ini sendiri pekerjaan yang tidak akan terlewatkan bagi mereka yang bekerja didalam birokrasi tersebut. Tidak dapat dipungkiri jika dalam proses ini menimbulkan beberapa kerugian, terutama adalah menurunkan derajat nama kampus.
Ketika sebuah PTN maupun IAIN mendapati kasus korupsi, pasti akan membuat penurunan kuwalitas. Akibatnya sarana dan prasarana untuk memajukan kampus menjadi terhambat. Sangat memilukan sekali kejadian ini, dibalik semua itu pasti ada orang yang menjadi tikus. Seperti dilansir Liputan6.com yang menyebutkan  Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Keuangan, dan Administrasi Umum Universitas Indonesia Tafsir Nurchamid kembali diperiksa KPK dengan status tersangka untuk kasus proyek pembangunan dan instalasi teknologi informasi perpustakaan UI tahun anggaran 2010-2011. Namun, juga masih ada sebuah perguruan tinggi islam yang masih banyak memiliki kasus korupsi. Sebut saja Institut Agama Islam Negeri (IAIN), sangat tragis sekali ketika mendengar sebuah perguruan tinggi islam melakukan tindakan itu. Sangat kontras sekali dengan nama IAIN sewaktu disebut sebagai sekolah tinggi islam, tetapi tidak bisa menjalankan syariah-syariah agama islam. Padahal dalam sistem perkuliahan selalu diajarkan syariah islam.
Tidak seharusnya sebuah tempat belajar mengajar dialih fungsikan menjadi kumpulan “tikus” mencari makan. Namun apa daya, mereka sudah mewarisi tradisi yang sudah ada pada sebelumnya. Pada dasarnya semua itu dilandaskan rasa individu yang mempunyai keinginan yang tak dapat dielakkan. Dan saat itu sampai sekarang, tindakan seperti itu masih membudaya di kalangan mahasiswa.
 Tikus-tikus  ini semakin berkembang biak pada saat ada beberapa proyek besar. Sasaran paling besar yaitu perencanaan pembuatan bangunan di kampus. Bagi pihak pengelola pasti dalam pengerjaan rancangan ini akan mengambil keuntungan. Terutama para petinggi yang berkuasa di kampus. Tidak hanya itu, tetapi para pekerja yang dibawahi seorang mandor juga bisa melakukannya.
Lebih terlihat lagi ketika dimulainya penerimaan mahasiswa baru. Dan saat itu juga beberapa organisasi akan mengambil segera mengambil keuntungan. Sebut saja saat diadakan OPAK/OSPEK, banyak sekali senior yang memanfaatkan beberapa momen itu. Diantaranya adalah membawa perlengkapan untuk resitasi, yang akhirnya nanti dimakan “Tikus” kampus. Sebenarnya itu hanya ide-ide dari Nama-nama seperti BEM, DEMA, dan SENAT  juga tidak terlewatkan. Mereka merupakan pimpinan yang mengkoordinasi mahasiswa untuk melakukan kegiatan yang ada di kampus.
Dan beberapa solusi dilakukan untuk mencegah dan meredam tindakan ini dikalangan pejabat publik. Dimulai dari kampus, misalnya di IAIN Walisongo Semarang akan direncanakan pembuatan mata kuliah Anti Korupsi. Pelajaran seperti itu akan sangat membantu untuk memperkuat pengetahuan Anti Korupsi. Menurut Prof Dr Muhibbin MAg, Rektor IAIN Walisongo mengungkapkan “Sejak tahun 2012, kami telah mencanangkan kampus IAIN Walisongo sebagai wilayah bebas korupsi (WBK), kurikulum anti korupsi ini merupakan cita-cita lembaga sebagai salah satu upaya solusi menangani kasus korupsi di tanah air,”. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Salah satu lembaga IAIN ikut prihatin terhadap maraknya tindak pidana korupsi di Tanah Air, kalo seperti ini terus bangsa kita akan hancur oleh koruptor. Kita mulai dari yang terkecil dulu, yaitu dari kampus sendiri, lalu Kementerian Agama, hingga ke lembaga yang lebih besar seperti legislatif.

Tetapi jika tidak dilakukan tindakan pencegahan, bisa saja korupsi yang ada di kampus ini semakin merajalela. Dan ketika sudah berkelanjutan, pasti sangat sulit untuk mengungkap hilangnya uang yang dimakan oleh “tikus-tikus” kampus. Maka dari itulah mereka akan selalu berkembangbiak dengan cepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar