TIKUS DALAM KAMPUS?
Oleh:
Dicky Abi Pradana
Mahasiswa
Pendidikan Bahasa Arab IAIN Walisongo Semarang
Dalam sebuah
lembaga perguruan tinggi negeri maupun swasta sangat membutuhkan sistem
birokrasi. Terutama di Universitas maupun Institut, pasti sangat memerlukannya.
Ketika sistem ini berjalan di kampus dengan tidak baik atau bermasalah, maka
dapat dikatakan orang yang berada didalamnya sebaian juga tidak baik. Dan pada
saat itu juga mereka akan mengambil kesempatan untuk melakukan tindakan tersembunyi.
Salah satunya adalah berbuat korupsi. Korupsi ini sendiri pekerjaan yang tidak
akan terlewatkan bagi mereka yang bekerja didalam birokrasi tersebut. Tidak
dapat dipungkiri jika dalam proses ini menimbulkan beberapa kerugian, terutama
adalah menurunkan derajat nama kampus.
Ketika
sebuah PTN maupun IAIN mendapati kasus korupsi, pasti akan membuat penurunan
kuwalitas. Akibatnya sarana dan prasarana untuk memajukan kampus menjadi
terhambat. Sangat memilukan sekali kejadian ini, dibalik semua itu pasti ada orang
yang menjadi tikus. Seperti dilansir Liputan6.com yang menyebutkan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Keuangan, dan Administrasi Umum Universitas Indonesia Tafsir
Nurchamid kembali diperiksa KPK dengan status tersangka untuk kasus
proyek pembangunan dan instalasi teknologi informasi perpustakaan UI tahun
anggaran 2010-2011. Namun, juga masih ada sebuah perguruan tinggi
islam yang masih banyak memiliki kasus korupsi. Sebut saja Institut Agama Islam
Negeri (IAIN), sangat tragis sekali ketika mendengar sebuah perguruan tinggi
islam melakukan tindakan itu. Sangat kontras sekali dengan nama IAIN sewaktu
disebut sebagai sekolah tinggi islam, tetapi tidak bisa menjalankan
syariah-syariah agama islam. Padahal dalam sistem perkuliahan selalu diajarkan
syariah islam.
Tidak seharusnya
sebuah tempat belajar mengajar dialih fungsikan menjadi kumpulan “tikus”
mencari makan. Namun apa daya, mereka sudah mewarisi tradisi yang sudah ada
pada sebelumnya. Pada dasarnya semua itu dilandaskan rasa individu yang
mempunyai keinginan yang tak dapat dielakkan. Dan saat itu sampai sekarang,
tindakan seperti itu masih membudaya di kalangan mahasiswa.
Tikus-tikus ini semakin berkembang biak pada saat ada
beberapa proyek besar. Sasaran paling besar yaitu perencanaan pembuatan bangunan
di kampus. Bagi pihak pengelola pasti dalam pengerjaan rancangan ini akan
mengambil keuntungan. Terutama para petinggi yang berkuasa di kampus. Tidak
hanya itu, tetapi para pekerja yang dibawahi seorang mandor juga bisa
melakukannya.
Lebih
terlihat lagi ketika dimulainya penerimaan mahasiswa baru. Dan saat itu juga
beberapa organisasi akan mengambil segera mengambil keuntungan. Sebut saja saat
diadakan OPAK/OSPEK, banyak sekali senior yang memanfaatkan beberapa momen itu.
Diantaranya adalah membawa perlengkapan untuk resitasi, yang akhirnya nanti dimakan
“Tikus” kampus. Sebenarnya itu hanya ide-ide dari Nama-nama seperti BEM, DEMA, dan
SENAT juga tidak terlewatkan. Mereka
merupakan pimpinan yang mengkoordinasi mahasiswa untuk melakukan kegiatan yang
ada di kampus.
Dan beberapa solusi dilakukan
untuk mencegah dan meredam tindakan ini dikalangan pejabat publik. Dimulai dari
kampus, misalnya di IAIN Walisongo Semarang akan direncanakan pembuatan mata
kuliah Anti Korupsi. Pelajaran seperti itu akan sangat membantu untuk
memperkuat pengetahuan Anti Korupsi. Menurut Prof Dr
Muhibbin MAg, Rektor IAIN Walisongo mengungkapkan “Sejak tahun 2012, kami telah
mencanangkan kampus IAIN Walisongo sebagai wilayah bebas korupsi (WBK),
kurikulum anti korupsi ini merupakan cita-cita lembaga sebagai salah satu upaya
solusi menangani kasus korupsi di tanah air,”. Oleh karena itu, mahasiswa
diharapkan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Salah satu lembaga IAIN ikut
prihatin terhadap maraknya tindak pidana korupsi di Tanah Air, kalo seperti ini
terus bangsa kita akan hancur oleh koruptor. Kita mulai dari yang terkecil
dulu, yaitu dari kampus sendiri, lalu Kementerian Agama, hingga ke lembaga yang
lebih besar seperti legislatif.
Tetapi jika tidak dilakukan tindakan pencegahan, bisa saja korupsi yang ada
di kampus ini semakin merajalela. Dan ketika sudah berkelanjutan, pasti sangat
sulit untuk mengungkap hilangnya uang yang dimakan oleh “tikus-tikus” kampus.
Maka dari itulah mereka akan selalu berkembangbiak dengan cepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar